Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia sangat menyukai cabai, dimana di setiap masakan yang dibuat tak lepas dari cabai sebagai penguat rasa, yaitu pedas. Begitu juga cabai untuk aneka sambal. Cabai diolah sebagai sambal cocol, penambah pedas pada masakan tumisan, hingga pelengkap rujak, asinan serta teman gorengan. Adanya cabai dipercaya juga dapat menambah nafsu makan. Tak bisa dipungkiri, buah berwarna merah mengkilap ini menjadi salah satu bumbu yang wajib ada di dapur. Tanpa cabai, makanan akan terasa hambar di lidah dan tidak lagi terasa nikmat.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia

Cabai termasuk salah satu komoditas hortikultura yang sering menjadi objek pemberitaan dikarenakan harganya yang sangat fluktuatif. Begitu harganya melejit, ibu-ibu pun menjerit. Dan uniknya, berapapun harga cabai, para pebisnis kulineran makanan akan tetap membelinya. Karena itulah cabai merupakan komoditas agribisnis yang masih prospek dan menguntungkan.

Asal tanaman ini adalah dari Amerika Selatan dan telah lama dibudidayakan untuk keperluan bumbu masak oleh orang-orang Indian. Tanaman ini sangat baik tumbuh di tanah berpasir, tanah liat, atau tanah liat berpasir. Kemasaman tanah untuk pertumbuhannya dapat di angka antara pH  4 – 8.  Dan tanaman ini menyukai sinar matahari yang banyak agar tumbuh dengan baik.

Senyawa Capsaicin Penentu Pedas Cabai

Pedasnya cabai dikarenakan adanya senyawa capsaicin di dalamnya. Senyawa capsaicin ini merupakan zat yang mengendalikan pada rasa pedas pada cabai. Secara kasat mata capsaicin dapat kita temukan pada biji dan urat cabai berwarna putih. Bila kurang menyukai rasa pedasnya cabai kita bisa membuang bijinya.

Bila dibandingkan dengan cabai besar (seperti: cabai merah dan cabai hijau termasuk juga paprika) kandungan capsaicin dan dihidrocapsaicin pada cabai rawit lebih tinggi.

Oleh karena itu, cabai rawit memiliki rasa lebih pedas daripada jenis cabai lainnya.

Rasa pedas yang terasa pada cabai juga bisa dihitung dengan menggunakan Skala Scoville (SHU: Scoville Heat Units). Untuk cabai rawit diketahui memiliki nilai 100.000 SHU saat diukur menggunakan SHU. Adapun cabai merah besar hanya 30.000-50.000 SHU.

Baca juga : Terasi Udang Rebon Candu Penggemar Sambal

Beberapa Jenis Cabai

Cabai Rawit : Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia rawit berarti kecil. Berikut beberapa jenis cabai:

  1. Cabai jemprit: kecil bentuk buahnya, panjangnya 1-2 cm. Buahnya yang masih muda akan berwarna hijau berubah menjadi merah setelah semakin tua.  Rasanya sangat pedas, dan kadar minyak atsirinya tinggi.
Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai jemprit

2. Cabai ceplik    : besar bentuk buahnya dan gemuk, lebih besar dari pada cabe jemprit, panjang buahnya 3-4 cm dengan lebar 1-1,5 cm. 

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai ceplik

3. Cabai putih atau cengek : panjang dan langsing bentuk buahnya,  dan termasuk yang terpanjang diantara 2 jenis di atas dan panjang buahnya  4-6 cm dengan lebar 1 – 1,5 cm.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai putih atau cengek

4. Cabai celepik :cabai celepik berwarna merah ketika sudah masak optimal dari warna hijau saat bertumbuh. Ukuran cabai celepik ini lebih besar dari cabai jemprit (panjang 1-2 cm) dan lebih kecil dari cabai domba (panjang 5-6 cm). Bisa tumbuh subur di dataran rendah dan mudah didapatkan.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabe celepik

5. Cabai gendot  : banyak ditemui di dataran tinggi, di kawasan Dieng, Wonosobo. Cabai ini berukuran mini dan gendut, dengan permukaan kulit yang agak berlekuk dan teksturnya halus. Cabai ini berukuran panjang 4-5 cm. Warnanya yang cerah menyala sekilas seperti cabai paprika yang rasanya tak pedas. Namun perbedaan yang besar soal rasanya, cabai gendot justru punya rasa yang teramat pedas. Bahkan ada yang mengatakan rasa pedas cabai gendot  menyamai dengan cabai habanero yang tingkat pedasnya mencapai 350.000 skala Scoville. Cabai gendot memiliki biji hitam. Untuk mengurangi sengatan pedasnya masyarakat membuang sebagian bijinya.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai gendot

6. Cabai domba atau cabai putih : cabai domba ini, berukuran 5-6 cm, bisa dibilang cocok buat orang yang suka pedes level rendah, sekedar pedas namun tidak menyengat. Level kepedasan mulai dari 50.000-100.000 SHU, sehingga rasa pedasnya lebih bisa diterima oleh lidah. Cabai ini merupakan salah satu cabai paling populer di Indonesia juga disebut cabai rawit putih. Warnanya beraneka ragam, ada yang hijau, orange hingga putih dengan tampilan memanjang dan agak gemuk dan tumpul di ujungnya. Cabai rawit domba berasal dari kawasan St. Agustine di Florida.

Cabai domba cukup cocok sebagai bahan utama untuk membuat sambal, penambah pedas pada sayuran kuah, masakan tumisan atau disantap segar dengan gorengan. Cabai rawit Domba sering dijadikan bahan utama dalam pembuatan sup tomyum.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai domba atau cabai putih

7. Cabai katokkon: cabai katokkon ini dikenal di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan karena cabai ini optimal tumbuh hanya berada di dataran tinggi sekitar 1000-1.500 mdpl dan sulit dibudidayakan di luar di Tanah Toraja.

Cabai ini memiliki bentuk yang lebih bulat seperti tomat dengan diameter sekitar 2-3 cm per buahnya dan mempunyai rasa yang lebih pedas dari cabai rawit yang ada di pasaran di Jawa. Sebagai penambah rasa pada aneka hidangan khas Toraja dan kelezatan sajian.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai katokkon

8. Cabai hiyung: cabai katokkon ini dikenal di Tanah Toraja, Sulawesi selatan karena cabai ini optimal tumbuh hanya berada di dataran tinggi sekitar 1000-1.500 mdpl dan sulit dibudidayakan di luar di Tanah Toraja.

Cabai khas dari Kalimantan yang mempunyai rasa pedas yang  mencapai 17 kali rasa pedas dari cabai rawit dan bisa dibilang sebagai cabai terpedas di Indonesia bahkan masuk ke dalam daftar 10 cabai terpedas di dunia.

Diberi nama hiyung karena cabai ini banyak dibudidayakan di desa Hiyung, kecamatan Tapin, Kalimantan Selatan.

Bentuk fisik cabai hiyung ini sekilas mirip cabai rawit merah namun lebih besar, warna merahnya lebih tajam menggoda dan permukaan halus dan kilap.

Tergoda menyicipinya?

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai hiyung

9. Cabai Jawa : bisa jadi hanya cabai ini yang jarang masuk pemberitaan saat harga cabai mulai meroket dan bikin pusing para penjual kulineran serta penggemar berat cabai.

Karena cabai jawa ini menjadi salah satu bahan pembuatan jamu tradisional maka cabai ini dikenal sebagai cabai jamu yang membantu menyembuhkan demam, meluruhkan batu ginjal, sampai meningkatkan stamina pria.

Cabai Jawa paling cocok dikonsumsi saat musim hujan atau ketika kita berada di daerah dingin karena bisa menghasilkan rasa hangat di badan untuk menghalau rasa dingin.

Uniknya, bila menggunakan cabai Jawa ini  harus dikeringkan terlebih dahulu.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia

Cabai Merah :

  1. Cabai merah bulat besar : ciri fisik cabai merah ini panjang dan besar, membujur lancip. Seperti ada lilin di permukaan kulitnya sehingga nampak mulus dan mengkilat. Jika sudah matang memiliki warna merah terang.Cabai ini memiliki panjang 10 sampai 15 cm dengan diameter 2-3 cm. Berkulit tebal dan tidak terlalu pedas.
Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai merah besar

2. Cabai merah keriting : ukurannya lebih panjang dari cabai merah (panjang 14-15 cm) namun bentuk fisiknya lebih ramping. Kulitnya yang tipis menyebabkan tektur bijinya menonjol sehingga nampak bentuk luarnya bergelombang.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
cabai merah keriting

3. Cabai hijau : Cabai ini merupakan cabai merah besar yang dipanen lebih awal saat warna cabai masih terlihat hijau.

Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia
Cabai besar hijau

Di Indonesia nama cabai di setiap daerah berbeda-beda, seperti:

  1. di Jawa, orang menyebutnya lombok
  2. di Sunda, orang menyebutnya sabrang, cengek
  3. di Madura, orang menyebutnya cabhi
  4. di Bali, orang menyebutnya tabia
  5. di Sasak/ Lombok, orang menyebutnya sebia
  6. di Bima, orang menyebutnya saha, sebia
  7. di Sumba, orang menyebutnya mbaku hau
  8. di Flores, orang menyebutnya koro
  9. di Aceh, orang menyebutnya campli, capli
  10. di Nias, orang menyebutnya lada sebua
  11. di Lampung, orang menyebutnya cabi
  12. di Batak Karo, orang menyebutnya lacina
  13. di Batak Toba, orang menyebutnya lasiak, lasina
  14. di Minangkabau, orang menyebutnya lado
  15. di Manado, orang menyebutnya rica
  16. di Makassar, orang menyebutnya lada
  17. di Gorontalo, orang menyebutnya malita
  18. di Mongondow, orang menyebutnya mareta
  19. di Bugis, orang menyebutnya lading
  20. di Sampit, orang menyebutnya rada
  21. di Ambon, orang menyebutnya siri
  22. di Seram, orang menyebutnya manca
  23. di Buru, orang menyebutnya kastela
  24. di Kalawat, orang menyebutnya maresen
  25. di Halmahera, orang menyebutnya maricang
  26. di Ternate Tidore, orang menyebutnya rica lamo
  27. di Mentawai, orang menyebutnya raro sigoiso

Pada umumnya cabai merupakan sumber yang sangat baik dari vitamin A dan C serta senyawa fenolik, yang merupakan komponen antioksidan penting yang dapat mengurangi risiko penyakit. Cabai-Cabai Hasil Budidaya dari Daerah di Indonesia.

ditulis : Bajas

sumber: Google search

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *